Selasa, 04 Februari 2014

PENGALAMAN PRAKTEK APOTEKER DI APOTEK


Untuk bisa praktek sebagaimana layaknya suatu profesi, seorang Apoteker memang harus melalui perjuangan yang berat & lama, membutuhkan kegigihan, kesabaran dan semangat serta motivasi yang sangat kuat untuk bisa berhasil eksis dianggap sebagai Apoteker oleh pasien. Yang jelas seorang Apoteker yang berniat praktek betulan di Apotek, prasyarat utama harus membuka Apotek sendiri, tidak boleh kerjasama dengan pemodal, karena dengan modal sendiri, kita akan lebih termotivasi untuk kerja all-out / kerja spartan untuk memajukan Apotek, khususnya dalam menjalani Praktek Apoteker. Untuk mengatasi permodalan bisa kredit lewat bank atau pinjam family atau pinjam lewat teman akrab yang punya uang lebih. Sebagai Apoteker juga harus siap selalu belajar memantapkan ilmu, khususnya menguasai secara praktis ilmu-ilmu yang berkaitan dengan obat, seperti ;  Farmakologi, Farmakoterapi, Farmakokinetik, Farmakodinamik dan toksikologi.

Penguasaan ilmu tersebut sangat penting ketika kita memberikan konseling kepada pasien, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien, gunakan bahasa ibu pasien, kalau pasien pakai bahasa jawa, maka kita juga sedapat mungkin menggunakan bahasa jawa. Pasien akan sangat senang ketika kita memberikan emphaty yang sangat besar kepadanya. Apalagi kalau kita menggunakan gaya bahasa yang dapat menyentuh perasaan pasien, sehingga menimbulkan kepercayaan yang besar pasien kepada Apoteker. Keilmuan yang harus dimiliki yang praktis saja, seperti ; aturan pakai harus dijelaskan kenapa harus 1x1, 2x1 atau 3x1 disertai jam minum obat, dijelaskan kenapa sebelum makan (contoh: Antibiotik ; Amoxycillin, Ciprofloxacin 2 jam sebelum makan), pada saat perut kosong (contoh : Captopril),  pada saat makan (contoh: Acarbose) atau sesudah makan  (contoh; Asam mefenamat, Piroksikam, Na.diklofenac), atau kenapa sebaiknya diminum malam hari saja  (contoh: Simvastatin), juga dijelaskan serba lengkap sekilas tentang penyakit pasien, apa yang perlu dijaga, pantangannya, efek samping obat yang mungkin muncul, monitoring (kadar gula darah pada diabetes melitus), beri advis juga tentang cara hidup yang sehat, tentang penyimpanan obat dirumah, dll. Perlu dijelaskan juga tentang interaksi obat dgn obat Contoh ; Tetrasiklin / Ciprofloxaci dgn logam berat (antasida/vitamin), Ketonazol dgn yang bersifat basa (Antasida), karena Ketonazol mudah larut pada suasana asam. Interaksi obat dgn makanan/minuman, contoh Ampisilin/Amoxicillin jangan diminum dgn air teh karena absorbsinya terhambat. Untuk obat-obat tertentu seperti golongan corticosteroid, perlu penjelasan yang agak panjang (perlu dijelaskan tentang Tappering dose), juga untuk pasien dengan penyakit kronis dijelaskan lebih detail. Yang paling penting kita harus bisa menjelaskan secara profesional, bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan berdasarkan Evidence Based Medicine terkini.
Sebelum memberikan konseling, kita harus mengenal dulu karakter pasien. Dari pengalaman, karakter pasien sangat beragam ; 1) Ada tipe pasien yang merasa tahu obat tetapi sebenarnya tidak tahu persis ; untuk tipe ini, kita harus hati-hati, biasanya si pasien merasa kurang membutuhkan informasi obat, perlu kata-kata yang bersifat mengebom, yang bisa menarik perhatian pasien, sebagai contoh misalnya, Hati-hati ya bu/pak, obat dexamethason ini sangat berbahaya jika salah menggunakannya, tulang bisa kropos, menyebabkan diabetes melitus, kerusakan ginjal, dll. biasanya si pasien akan minta informasi obat lebih lanjut, 2) Ada tipe pasien yang tidak mau diberi konseling, padahal dia tidak paham khasiat obat yang akan dibeli. biasanya pasien seperti ini, kalau ke Apotek langsung menunjuk obat yang diinginkan, tetapi kalau ditanya untuk apa, si pasien biasanya jawabannya sangat mengejutkan, karena tidak sesuai antara obat dan indikasinya, sebagai contoh ; pernah ada pasien minta Alupurinol, ketika ditanya sakit apa, jawabnya pegal-pegal, ketika ditanya lebih lanjut, apakah kadar asam uratnya tinggi ? si pasien malah balik bertanya, asam urat itu apa ??. 3) Ada tipe pasien yang memang sangat membutuhkan informasi obat, biasanya pasien ini ke apotek langsung minta konsultasi tentang keluhan penyakitnya dan minta saran pengobatannya, pasien seperti ini sangat mudah diberikan konseling dan loyalitasnya sangat tinggi, biasanya kalau sakit pasti kembali lagi dan kalau sembuh selalu memberi tahu, sambil mengucapkan terima kasih. 

Kadang-kadang mereka ke Apotek hanya sekedar konsultasi tanpa beli obat. 4) Ada tipe pasien yang suka menyalahgunakan obat, biasanya tipe pasien ini langsung minta obat tanpa mau komunikasi, dan kelihatan tergesa-gesa, pingin cepat berlalu dan selalu minta obat yang sama, contoh obat yang sering disalahgunakan ; Antimo, CTM, obat yang mengandung ephedrin/ pseudo-ephedrin/dextromethorpan, dexamethason, supertetra, dll. 5) Ada juga tipe pasien yang sangat fanatik obat branded / paten, walaupun mahal, bagi dia tidak masalah, pasien seperti ini kurang percaya dengan obat generik, apalagi harga obat generik yang sangat murah, dia meragukan khasiat obat generik, biasanya pasien tipe ini banyak uang / keluarga kaya. 6) Ada tipe pasien yang mencari obat dengan harga murah, suka membanding-bandingkan harga dengan Apotek lain, selisih harga sedikit saja, dia tidak jadi beli. Untuk pasien seperti ini diberikan obat generik dengan harga yang kompetitif dengan apotek lain. 7) Ada pasien yang membawa anaknya, kita harus bisa bergaul dengan anak-anak, ngobrol dan anaknya disapa sesuai gaya anak-anak, misalnya ; adiknya cantik sekali....udah sekolah atau belum...kelas berapa dik....aduh pintarnya....dll, biasanya anaknya juga minta dibelikan permen vitamin seperti ; Fitkom, sakatonik abc, vidoran gummy, scott gummy, dll, tempatkan barang-barang kesukaan anak-anak tersebut di tempat yang mudah terlihat.
Dengan mengenal bermacam-macam karakter pasien, akan sangat memudahkan kita dalam memberikan konseling, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter pasien. Dari pengalaman selama ini, jika pendekatan kita mengena dihati pasien, pasien tsb akan memberitahu orang lain, sehingga pasien akan berbondong-bondong sampai antri minta konsultasi pada Apoteker. Dampak yang nyata, pendapatan Apotek meningkat tajam dan ada kepuasan batin bagi Apoteker karena diakui sebagai Apoteker oleh masyarakat.

Ada hal lain yang harus dimiliki seorang Apoteker yaitu ; "Keterampilan Berkomunikasi", Hal ini sangat penting sekali bahkan sangat menentukan sekali akan kemajuan praktek seorang Apoteker. Kepercayaan pasien sangat ditentukan sekali oleh keterampilan sang Apoteker berkomunikasi. Dalam berkomunikasi dengan pasien, jangan lupa prinsip 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Terutama yang sangat menentukan ; "Senyum", karena kesan pertama sangat menentukan langkah selanjutnya. Pasien biasanya sangat senang ketika kita sambut kedatangannya dengan tersenyum. Senyum yang paling baik, ketika kita tersenyum betul-betul dari hati yang paling dalam, tidak dibuat-buat, senyum yang benar-benar ikhlas. Setelah tersenyum, sambut sang pasien dengan sifat keramahan mengucapkan Salam, Assamu'alaikum, selamat pagi/siang/sore/malam, kemudian di sapa ; apa yang bisa dibantu pak/bu ?, dengan nada suara yang rendah.. Tidak kalah penting juga adalah gerak badan kita harus sopan dan santun, sedikit agak membungkuk, menghormati kedatangan pasien.

Pada akhirnya, hanya sang Apoteker sendirilah yang bisa menentukan perubahan maju tidaknya profesi Apoteker dimasa datang.
Selamat menjalani praktek Apoteker, semoga Apoteker semakin dikenal masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar